Potret Kelam Kehidupan Mbah Tumiran

0
677
Rumah reot milik Mbah Tumiran di RW 15 RT 28 Kelurahan Hadimulyo Timur Kecamatan Metro Pusat.

 

METRO – Hari tua semestinya dinikmati dengan tenang, tanpa dipusingkan dengan masalah perekonomian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sayang, masih banyak orang tua yang tak bisa menikmati kondisi tersebut.

Kehidupan pasangan suami istri Tumiran (85) dan Benik (80), bisa menjadi salah satu contoh, betapa masih banyak saudara-saudara kita yang tak bisa menikmati hari tuanya dengan tenang dan nyaman, karena terbelenggu kemiskinan.

Pasutri warga RT 28 RW 15 Kelurahan Hadimulyo Timur, Kota Metro, Provinsi Lampung itu selama puluhan tahun harus rela tinggal di gubuk reot yang sangat tak layak huni.

Bangunan gubuk tempat tinggal mbah Tumiran itu, hanya berdinding geribik (anyaman bambu). Beberapa bagian dinding gubuk itu, ditambal dengan papan dan triplek bekas.

Tiang-tiang kayu penyangga atap gubuk, sebagian besar sudah kropos dimakan rayap. Atap gentengnya pun sudah banyak yang bocor. Saat hujan turun, air akan masuk dari celah genteng, menggenangi ruangan dalam gubuk itu.

Mbah Tumiran yang sehari-hari bekerja sebagai pengumpul barang bekas (rongsokan), tak mampu memperbaiki kerusakan gubuk yang selama puluhan tahun menjadi tempat tinggalnya. Jangankan memperbaiki kerusakan gubuk, uang hasil memeras keringat dengan mengumpulkan rosokan itu pun, tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari.

Sementara sang istri (mbah Benik) yang lumpuh hanya bisa tergeletak lemah, di lantai gubuk beralaskan tikar. Selama menderita kelumpuhan, mbak Benik belum pernah mendapat perawatan medis, karena ketiadaan biaya.

Suganda (50) anak mantu Mbah Tumiran mengatakan, pihak RT dan RW setempat sudah sering datang mendata kondisi tempat tinggal mbah Tumiran untuk diusulkan mendapat batuan program bedah rumah.

“Sudah puluhan kali RT dan RW datang. Katanya buat mendata supaya dapat bantuan bedah rumah. Malahan rumah bapak mertua saya itu sudah difoto-foto, tapi sampai sekarang belum ada bantuanya,” tutur Suganda yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak di Pasar Kopindo, Metro.

Dia juga mengatakan, selama ini mertuanya hanya mendapatkan bantuan pangan non tunai dari pemerintah. “Setau saya, selama ini bapak dan ibu hanya dapat bantuan pangan non tunai. Tidak dapat bantuan lain,”ungkapnya. (Red)

LEAVE A REPLY