Peningkatan Iman Dan Takwa Di Bulan Ramadhan

0
411

SPIRIT RAMADHAN1440 H (Bag. 28)
“Menjadi Manusia Paripurna (Insan Kamil)”
Oleh: #kaP

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Hikmah puasa yang paling utama adalah membersihkan hati dan membentuk kejernihan pikiran, yakni secara kejiwaan membiasakan kesabaran, menguatkan kemauan, mengajari dan membantu bagaimana menguasai diri serta mewujudkan dan membentuk ketaqwaan yang kokoh dalam diri.

Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah. Tak ada gelar yang lebih mulia dan tingggi dari itu.
Setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia.
Melalui puasa yang mendorong terbentuknya hati yang bersih dan pikiran yang jernih maka kita punya sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu di bulan suci ramadhan.

Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang di hadapi begitu banyak. Diperlukan pikiran yang jernih untuk menyelesaikan semua masalah yang ada. Mulai dari masalah diri sendiri, anak, istri, saudara orang tua, kantor dan sebagainya.
Tapi bila orang itu bertaqwa, Allah akan menunjukkan jalan untuk berbagai persoalan itu. Bagi Allah tak ada yang sulit, karena Dialah pemilik kehidupan ini.
Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya (QS Ath-Thalaaq).

Dengan demikian kita sucikan fisik, hati, dan pikiran kita melalui pelaksanaan ibadah puasa ramadhan. Penjernihan pikiran hanya bisa dimulai dari hati. Hati yang bersih dari segala kekotoran yang menyelimuti nya.

Bersihkanlah dahulu hati kita maka kita akan dapat menemukan jalan pikiran yang jernih dan segar.
Bahkan ketika sampai pada suatu masa yang sangat melelahkan, yang sangat memberatkan, maka hati yang bersih itu dapat membimbing pikiran untuk mengambil keputusan yang tepat tak keliru sedikitpun.

Bagaimana cara membersihkan hati? Lakukan semuanya dengan ikhlas. Ikhlas adalah memaksudkan ucapan, perbuatan, diam, bergerak, yang dirahasiakan, yang ditampakkan, hidup atau mati hanya untuk Allah semata.

Tuhan memiliki kesempurnaan, antara lain tercermin dari keutuhan dua sifat-sifat sejati di dalam dirinya, yaitu sifat-sifat maskulinitas (“The Masculine God”) dan sifat-sifat femininitas (“The Feminine God”).
Di antara 99 nama indah-Nya, yang lebih dominan ialah sifat-sifat feminitas.

Ini mengisyaratkan bahwa Tuhan lebih dominan sebagai pengasih dan penyayang daripada pemurka dan pendendam.
Seseorang yang mendekati Tuhan lewat pintu feminin akan mengesankan Tuhan bersifat immanen, dekat, berserah diri, dan lebih tepat dicintai daripada ditakuti.
Sebaliknya, seseorang yang mendekati Tuhan lewat pintu maskulin akan mengesankan Tuhan bersifat transenden, jauh, dominan, struggeling, dan menakutkan.

Di dalam bulan suci ramadhan, Tuhan lebih terasa sebagai The Feminine God daripada The Masculine God. Menurut para sufi, jalur tercepat mendekatkan diri(taqarrub) kepada Tuhan ialah jalur yang pertama.

Bahkan Syekh Muhyiddin ibn ‘Arabi pernah mengatakan kepada muridnya: “Jika kalian ingin memotong jalan menuju Tuhan, terlebih dahulu kalian harus menjadi ‘perempuan’. Menurutnya, unsur kelelakian merepresentasikan sifat al-jalal Tuhan, sedangkan unsur keperempuanan merepresentasikan sifat al-jamal Tuhan.

Dalam bulan suci Ramadhan, yang juga disebut bulan cinta (syahr al-hubb), Tuhan lebih banyak memperkenalkan dirinya sebagai The Feminine God.Salah satu bentuk kemahapengasihan Tuhan ialah menganugerahkan bulan Ramadhan (secara harfiyah: penghancur, penghangus).

Setelah 11 bulan hambanya terasing di dalam kehidupan yang kering dan penuh dengan suasana pertarungan(power struggle), maka dalam bulan Ramadhan ini kita diajak untuk kembali ke kampung halaman rohani, yang basah dan menyejukkan, serta penuh dengan suasana lembut (nurturing).

Bulan suci Ramadhan ibarat oase di tengah padang pasir, memberikan kepuasan kepada kafilah yang sedang berlalu. Bulan Ramadhan adalah manifestasi dari rahimniyah dan rahimiyah Tuhan.
Puasa juga tentu bukan sekadar menahan lapar, dahaga dan hubungan seks. Yang teramat penting puasa sebagai latihan spiritual untuk mencontoh sifat-sifat Tuhan, sebagaimana dalam hadis takhallaqu bi akhlaqillah “(berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah Swt).

Al Qur’an menyebutkan “huwa yuth’im wa la yuth’am” (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan) (QS 6:14)
Bukankah dalam berpuasa kita tidak boleh makan, minum, dan berhubungan seks, sebaliknya kita diwajibkan berzakat fitrah, yaitu memberi makan kepada orang yang butuh.

Harapan terakhir kita dengan menjalankan ibadah puasa agar kita mencapai kualitas’insan kamil’ (manusia paripurna/sempurna), suatu kualitas spiritual yang paling diidealkan oleh umat Islam.

Insan Kamil sesungguhnya tidak lain adalah internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri kita sebagaimana dicontohkan oleh pribadi Rasulullah SAW. Akhlak Tuhan dapat dikenal melalui sifat-sifat-Nya sebagaimana tergambar dalam nama-nama indah-Nya (al-Asma al-Husna).

Ibarat seuntai tasbih nama-nama Indah itu berjumlah 99, dimulai dari lafzh al-jallah (Allah), dengan simbol angka 0 (nol), yang biasa dianggap angka kesempurnaan, disusul dengan ar-Rahman (Maha Pengasih), ar-Rahim (Maha Penyayang), al-Lathif (Maha Lembut), al-Jamal (Maha Indah), dan seterusnya sampai ke angka 99, ash-Shabur (Maha Sabar) dan kembali lagi ke angka nol, Allah (lafz al-Jalalah), atau kembali ke pembatas besar dalam untaian tasbih.

Simbol angka nol berupa lingkaran atau titik, menggambarkan siklus kehidupan bagaikan sebuah lingkaran, yang bermula dan berakhir pada satu titik, yang diistilahkan oleh Al Qur’an: inna lilAllahi wa inna ilaihi raji’un (kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya).

Kesempurnaan adalah sebuah keniscayaan yang sejatinya hanya ada dalam zat Tuhan, Allah SWT. Sempurna, dalam perspektif ketuhanan, memang tak terbatas.
Kamil (baca: sempurna) hanya dianugerahkan-Nya pada insan yang pantas menerima sebab keluhuran budi pekertinya, yakni baginda Rasulullah SAW (QS Al-Ahzab: 21).
Insan kamil sendiri diartikan sebagai manusia nan sempurna.

Adapun yang dimaksudkan dengan sempurna adalah sempurna dalam ibadah dan penghidupannya. Dan seseorang dapat dianggap sempurna jika ia memiliki kriteria tertentu.

Kriteria tersebut dimiliki oleh manusia-manusia biasa yang mau berusaha untuk menjadi ‘luar biasa’ di hadapan Tuhannya. Mereka terlepas dari para sufi, dai, ustaz, kiyai, atau orang biasa sekalipun—pada hakikatnya mampu meneladani segala teladan Rasulullah, jika ia meyakini Allah sebagai Rabb-nya, Alquran sebagai pedoman hidupnya, dan menjadikan Muhammad SAW sebagai sebaik-baiknya insan yang patut diteladani.

Tiada manusia yang sempurna. Begitu ungkapan yang sering kita dengar. Betul bahwa tiada manusia yang sempurna. Kita dianugerahi kekurangan agar dapat saling melengkapi antar manusia lainnya.
Namun hakikatnya, semua manusia mampu berusaha untuk tidak menempatkan dunia sebagai tujuan, namun sebagai pemenuhan totalitas amalan ukhrawi yang nantinya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Menyisihkan kepentingan dunia bukan berarti mengabaikan apalagi ‘meninggalkan’ kewajiban duniawi.
Namun lebih dari itu, meneladani potret insan kamil ialah dengan menyeimbangkan kehidupan dunia, tempat kita beramal shaleh sebagai bekal akhirat.

Sebagai orang yang berpuasa, selayaknya tidak saja menaruh kasih dan perhatian kepada sesama manusia, melainkan juga kepada makhluk-makhluk Tuhan yang lain.

Idealnya orang yang berpuasa sudah dapat menciptakan kualitas ukhuwwah basyariyyah, ukhuwah islamiyyah, dan ukhuwah makhluqiyyah, ini merupakan perwujudan prilaku insan kamil dan inilah konsep tauhid yang sesungguhnya.
Wallahu A’lam Bishawab.

#kaP
Penggagas / Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusanatara).
(red) itu

LEAVE A REPLY