Arti Shalat Daim

0
369

Oleh-oleh paling berharga yang dibawa oleh Rasulullah SAW untuk umatnya sampai akhir zaman dari perjalanan Isra Mi`rajnya menembus ruang dan waktu sampai Sidratul Muntaha, tempat terakhir yang sangat sunyi senyap dan tiada makhluk hidup selain dirinya untuk bertemu Allah SWT, adalah shalat.

Dengan Rasulullah SAW langsung menemui Allah SWT untuk mendapatkan oleh-oleh shalat ini di tempat yang sangat istimewa tersebut menandakan bahwa shalat memiliki posisi yang sangat penting dan istimewa dalam Islam.

Bahkan, begitu sangat pentingnya shalat, Rasulullah SAW bersabda, “Kepala segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah shalat, sementara puncaknya adalah jihad.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Rasulullah SAW juga bersabda, “Yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, dia akan beruntung (dalam sebuah riwayat disebutkan: dia akan berhasil). Dan jika shalatnya rusak, dia akan gagal dan merugi.” (HR ath-Thabrani).

Bahkan, shalat merupakan salah satu wasiat terakhir yang disampaikan Rasulullah SAW menjelang detik-detik wafatnya. Ummul Mukminin, Ummu Salamah, berkata, “Wasiat yang terakhir kali disampaikan Rasulullah SAW adalah shalat, shalat, shalat, dan budak-budak yang kalian miliki.” Sehingga, Nabi SAW menyembunyikannya di dalam dada dan tidak beliau sebarluaskan melaluinya. (HR Ahmad, sahih).

Oleh Rakhmad Zailani Kiki
Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre

Namun, shalat merupakan ibadah terakhir yang hilang dari amalan umat Islam. Hilangnya shalat ini telah diingatkan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya, “Tali-tali Islam akan lepas sehelai demi sehelai. Setiap kali sehelai tali itu lepas, umat manusia akan berpegangan pada tali berikutnya. Yang pertama kali terlepas adalah hukum, dan yang paling terakhir adalah shalat.” (HR Ahmad). Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Yang pertama kali dihilangkan dari umat manusia adalah amanat, dan yang tersisa paling akhir adalah shalat. Berapa banyak orang yang mengerjakan shalat tanpa ada kebaikan di dalamnya sama sekali di dalam dirinya.” (HR ath-Thabrani).

Kini, fenomena mulai hilangnya shalat sebagai ibadah terakhir yang diamalkan umat Islam telah muncul, yaitu mulai maraknya orang-orang Islam di Indonesia yang mengerjakan “shalat daim” yang telah disalahpahami. Saya menyebutnya disalapahami karena shalat daim yang sebenarnya itu tidak meninggalkan kewajiban shalat lima waktu. Namun, yang justru merebak dan marak dikerjakan, khususnya di Indonesia, adalah shalat daim yang meninggalkan kewajiban shalat lima waktu.

Shalat daim yang meninggalkan shalat lima waktu inilah yang perlu diwaspadai. Sebagai pusat pengkajian dan pengembangan Islam Jakarta, Jakarta Islamic Centre sejak 2010 telah mencermati keberadaan orang-orang atau kelompok-kelompok pengamal shalat daim nir shalat wajib lima waktu ini di DKI Jakarta.

Shalat daim berasal dari dua kata bahasa Arab, yaitu shalat dan daim. Daim artinya terus- menerus, selamanya (daa-iman). Maka, shalat daim memiliki pengertian shalat yang terus- menerus, tidak pernah putus dikerjakan. Shalat daim lahir dari pemahaman ulama, khususnya di tanah Jawa. Ulama mendasari dan mengambil istilah shalat daim ini dari firman Allah SWT, “Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya secara terus-menerus (daa-imun).” (QS al-Ma’arij :23).

Sebenarnya, shalat daim itu tidak lain adalah berzikir kepada Allah SWT secara terus-menerus sampai akhir hayat. Asal mula munculnya shalat daim, dapat dilacak dari sejarah salah seorang wali dari Wali Songo yang turut memopulerkan shalat daim ini, yaitu Sunan Bonang.

Awal dikenalkannya shalat daim ini oleh Sunan Bonang ketika dia mendidik Raden Mas Syahid yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kalijaga. Sunan Bonang menyuruh Raden Mas Syahid untuk duduk, diam, dan berusaha untuk mengalahkan hawa nafsunya sendiri. Menurut ajaran dari Sunan Bonang, shalat daim itu hanya duduk, diam, hening, dan pasrah pada kehendak Allah SWT.

Lewat kitab Suluk Wujil, Sunan Bonang sudah menjelaskan perihal shalat daim yaitu: “Keutamaan diri ini adalah mengetahui hakikat shalat, sembah dan pujian. Shalat yang sesungguhnya bukanlah mengerjakan salat Isya atau Maghrib (shalat 5 waktu). Itu namanya sembahyang. Apabila disebut shalat, itu hanya hiasan dari shalat daim, hanya tata krama. Shalat sejati tidak hanya mengerjakan sembah raga atau tataran syariat mengerjakan shalat lima waktu. Shalat sejati adalah shalat daim, yaitu bersatunya semua indra dan tubuh kita untuk selalu memuji-Nya dengan kalimat penyaksian bahwa yang suci di dunia ini hanya Tuhan: Hua Allah, dia Allah. Hu saat menarik napas dan Allah saat mengeluarkan napas.”

Lebih lanjut Sunan Bonang juga menjelaskan tentang cara melakukan shalat daim lewat kitab Suluk Wujil, yaitu: “Berbakti yang utama tidak mengenal waktu. Semua tingkah lakunya itulah menyembah. Diam, bicara, dan semua gerakan tubuh merupakan kegiatan menyembah. Wudhu, buang air besar, dan kencing pun kegiatan menyembah. Itulah niat sejati. Pujian yang tidak pernah berakhir.”

Kitab Suluk Wujil sendiri merupakan kitab yang berisikan ajaran Sunan Bonang kepada seorang bajang, bekas budak raja Majapahit bernama si Wujil. Ajarannya tentang mistisisme (tasawuf). Dalam kitab Suluk Wujil memuat tembang yang bermacam-macam dengan jumlah 104 pupuh. Selain di dalam kitab Suluk Wujil, ajaran shalat daim juga terdapat di dalam kitab Salat Daim Mulat Salira karya Bratakesawa dan juga di dalam kitab Wirid Ma`lumat Jati karya R Ngabehi Ranggawarsita (Ronggowarsito).

Akhir kalam, jika yang dimaksud dengan shalat daim adalah berzikir kepada Allah SWT secara terus-menerus tanpa putus dalam setiap keadaan, shalat daim bukan sesuatu yang dilarang, diharamkan, bahkan seharusnya kita kerjakan berdasarkan hadis Nabi SAW dari Aisyah RA, dia berkata: “Rasulullah SAW selalu berzikir kepada Allah Ta’ala dalam segala keadaan.” (HR Muslim). Namun. pada kenyataannya, shalat daim yang banyak dikerjakan sekarang ini adalah dengan meninggalkan shalat lima waktu dengan salah mengartikan ucapan Sunan Bonang. “Shalat yang sesungguhnya bukanlah mengerjakan salat Isya atau Maghrib (shalat 5 waktu). Itu namanya sembahyang. Apabila disebut shalat, itu hanya hiasan dari shalat daim, hanya tata krama.”

Ucapan Sunan Bonang ini bukanlah melarang mengerjakan shalat lima waktu, melainkan mengingatkan agar shalat itu tidak hanya menjadi hiasan, menjadi perbuatan riya. Maka, mereka yang mengerjakan shalat daim dengan meninggalkan shalat wajib lima waktu inilah yang masuk dalam kriteria Imam Malik sebagai orang zindik, penyeleweng agama. Merekalah yang berkontribusi besar terhadap hilangnya ibadah terakhir dari tubuh umat Islam dan mereka benar-benar ada di tengah-tengah kita. Waspadalah!(aby)

LEAVE A REPLY